Suatu saat nabi di teras masjid bersama sahabatnya dalam rangka menunggu waktu iktikaf. Kemudian ada pemuda gagah lewat depan masjid menuju perkebunan. Kemudian sahabat nabi ada yang komentar: ‘’alangkah sial orang itu, seumpama tubuhnya yang gagah itu dibuat untuk iktikaf dia akan beruntung. Masa’ gagahnya seperti itu kok kedonyan, mengurusi kebon terus.”
Nabi langsung menoleh dan berkomentar: Jangan ngomong seperti itu. Dia kerja untuk menafkahi keluarganya juga perintah Tuhan. Atau dia kerja karena untuk membelikan makan ibunya juga perintah Tuhan.
Akhirnya sahabat sadar bahwa tidak mereka saja yang sedang melakukan ibadah.
Artinya sesuatu yang sakral bergantung pada yang profan. Solat fardhu itu keharusan, dan untuk bisa solat seseorang harus makan, dan untuk bisa makan seseorang harus bekerja. Artinya bekerja itu juga suatu kewajiban.
Beberapa waktu kemudian, setelah para sahabat rampung iktikaf, jalan-jalan dan bertemu Abu Ayyub al-Ansori yang waktu itu sedang habis dari kebon.
Dan diberilah sahabat-sahabat itu hasil panen kurma. Kok ya ndilalah sahabat yang habis iktikaf itu doyan.
Ada sahabat perempuan yang tiap habis solat terburu-buru pulang karena ingin menyusui anaknya. Sehingga tidak sempat untuk wiridan. Kemudian ada sahabat lainnya yang mengomentari: sungguh celaka orang itu karena tidak pernah wiridan.
Mendengar itu nabi paham dan langsung menukas; Jangan seperti itu. Dia memang tidak wiridan, tapi jangan anggap dia tidak sedang melaksanakan perintah Tuhan. Menyusui anak itu juga bagian dari perintah Tuhan.
Darusan (membaca al-Qur'an secara bergilir) di masjid itu baik. Dan tradisi di desa saya, biasanya orang yang darusan dikirimi jajan dan kopi. Segala jenis gorengan lengkap. Dan yang memberi jajan tersebut pernah ditegur seorang Ustadz; kamu kok gak pernah ikut darusan? Dasar bocah nakal. Kasihan orang tuamu.
Kemudian, teman saya itu kok ndilalah cerdas jawabannya:
‘lha kalau aku ikut darusan yang masak jajan dan membuatkan kopi kamu siapa?”
Ustadznya langsung mak klekep.
Maksudnya kita itu jangan saling vonis. Sesuatu yang sangat akhirat sering kali bergantung pada sesuatu yang sangat duniawi. Orang solat itu butuh pakaian. Dan mereka yang membuat pakaian boleh jadi justru tidak solat. Dan boleh jadi mereka yang membangun masjid; yang menyumbang material dan lainnya itu orang yang justru jarang solat. Dan seterusnya.. Ruwet pokoknya kalau dirinci satu-satu.
Padahal belum lagi bicara soal haji.. siapa yang buat pesawat? Belum lagi bicara soal obat-obatan, belum tentu yang membuat dan meracik obat dari golongan muslim.. Pokoknya jangan GR dulu lah.
Meniru gaya Cak Lontong: Mikiiir. sambil menudingkan telunjuknya di jidat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar