
; Matahari di Hatiku
Anakku, segala musim di sini tidak sekalipun dapat mengubah musim kerinduan ayah akan gelak anak perempuanya. Ayah sudah sangat berusaha sejauh ini Sayang. Berusaha untuk tidak menjadikan alasan akan kesedihan karena dibuatnya rindu dari olahan ingatan. Najwa... Sayang... Ayah sangat ingin, kamu peluki. Meski tanganmu hanya sebatas setengah lengan atas. Setengah mata Najwa, ada di setengah mata ayah.
Belakang, langit sering menangis. Atau hujan membuatnya seperti demikian. Penuh air yang dijatuhkan dari yang tinggi itu Sayang. Tapi kenanglah, kalau tanpa hujan kita akan mati kehausan dan mati menjadi arang. Ayah sangat menyukai hujan, Sayang. Bukan cuma kesedihan, tapi hujan ingatkan kita kalau kelak kita akan ke langit yang misterius dari lahan sempit daratan ini. Cahaya-cahaya menari saat hujan tiba, sekalipun awan tampak menakutkan. Karena ia mampu membawa malam seolah setengah dan muram. Namun, langit selalu indah, ia tidak pernah menyembunyikan sesuatu. Bahkan dari matamu, Najwa.
Sewaktu kecil, ayah senang bermain seolah menjadi dewa langit. Tiduran di halaman, sekalipun kotor ayah tak pedulikan. Ayah pandangi kapas-kapas awan. Mereka temani ayah, tangan ayah bergerak. Seolah membuat animasi dan mengkremasi mimpi-mimpi yang tidak dapat dengan mudah ayah dapatkan kini. Ayah membentuk apa yang ayah inginkan. Apapun. Berharap agar Allah tiba-tiba melihat gerakan ayah membentuk awan-awan-Nya. Saat hujan, dari balik jendela Ayah mendengar dengan khidmat bunyi hujan. Bunyi air yang tidak sendiri. Ayah yang sangat penyendiri sangat menyukai benda mati dan gerak alam, sekalipun bagi ayah semua memiliki caranya untuk hidup.
Sayang... Kehadiran kamu, membuat ayah tak merasa sedingin saat hujan seolah marah dan membenturkan dingin ke sendi-sendi. Ayah masih muda, namun tulang belakang ayah rentan sakit. Hehe lucu ya. Harapan ayah cukup, jangan dulu sakit saat kamu membutuhkan ada dipangkuan ayah. Najwa membuat ayah hidup. Hati yang dulunya kalap dengan dinginnya kehidupan, kini kamu petih bunga api ke dalam kubah es ayah. Pelan-pelan mencair, seperti keinginan dan harapan-harapan.
Jangan malu untuk mengatakan kasih dan sayang pada siapapun di dunia ini, Nak. Sebab, keindahan hidup terletak pada perasaan-perasaan hidup yang saling mengasihani, berbagi, dan menerima apa yang terjadi setelah suka, setelah duka. Ayah selalu kangeeeen sekali. Ayah jahat ya. Ayah bilang kangen, Najwa belum ngerti ya. Harusnya untuk membuatmu mengerti adalah kehadiran ayah yang tidak pernah melewatkan lelapmu, bangunmu, laparmu, mandimu, bahkan saat engkau sedang asik bermain dengan duniamu. Ayah... selalu sangat merindukan kamu, Nak..
----
Pada saat penulis memandangi foto putri kecilnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar