Sesuatu Semacam Penggombalan
Kekasihku,
Apakah kau pernah mendengar cerita tentang langit? Betapa ia
merindui bumi dengan rindu membiru. Lalu ia sembahkan drama siang dengan
kemilau mentari, dan malam dengan percik cahaya bulan dan bintang. Ia
lukis gemulai awan dan tarian beburung, sepoi angin dan basah gerimis,
pada pagi dan senja hari. Rindu menjuntai
bersama derai hujan, lenguh Guntur dan gelegar halilintar: Berdentum di
bilikbilik paling sunyi. Rindu terus saja membiru.
Kekasihku,
Pernahkah kau dengar hikayat sang bumi? Betapa ia merindu langit
dengan segenap kesungguhannya. Lalu ia sembahkan drama kehidupan dengan
laut dan hutanhutan, sungai dan ngaraingarai. Ia lukis keindahan bunga,
hembuskan semerbak cinta, pada pagi dan senja hari. Rindu menderu
bersama gemuruh bayu. Di selatan, nelayan melarung sepi bersama
bidukbiduk sunyi. Rindu selaksa pasir, debu menggulung mimpimimpi.
Kekasihku,
Pernahkah kau dengar kisah lautan? Betapa ia merindu daratan dengan
keseluruhan ikan dan koralkoral. Lalu ia sembahkan tarian ombak,
menghantar buih kerinduan pada pasir pantai atau karang di lereng curam.
Rindu tak pernah lekang. Laut terus saja bergemuruh.
Kekasihku,
Pernahkah kau dengar riwayat daratan? Betapa ia rindui lautan dengan
segenap gunung dan batu cadasnya. Lalu ia sembahkan sungai. Aiiih...,
betapa khusyuk ia mencari muara. Di utara, gunung mengaum.
Kekasihku,
Inilah kisah rindu paling tua, kisah cinta paling hingar. Langit dan
bumi, darat dan laut, berkelindan di kesunyian malam. Cinta tak pernah
tidur, ia terbangun di sepanjang buritan kapal.
Dan,
Kekasihku, akulah bumi dan langitmu, darat dan lautmu. Maka jangan beranjak dariku
----
Pada saat penulis mencoba untuk merayu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar