Kadang-kadang aku memilih Kesendirian itu justru untuk menolak sepi. Kesendirian itu bukan semata-mata barang misalnya mengurung diri di kamar atau menyepi di tempat yang jauh dari keramaian. Namun kesendirian aktiv sebagai pintu masuk Menyambut Liyan. Dan sebaliknya, Liyan bukan berarti selalu dalam bentuk seseorang. Liyan bisa berarti, misal; kenangan.
Tapi kesendirian juga yang menyebabkan aku sering menaruh curiga dan sekaligus menakar kehendak Tuhan. Seperti ini misalnya; Jangan-jangan Tuhan menciptakan Kopi itu agar aku dapat merasakan kepahitan seorang pecinta yang tak diakui. Kesendirian juga yang memicu pikiranku untuk menduga-duga kehendak Tuhan; jangan-jangan Tuhan menciptakan Perpisahan agar seorang pecinta bisa menerjemahkan kegetiran ke dalam puisi.
Itu yang melatari mengapa aku sekali tempo begitu kuat ingin "Manjing Kahanan" ke dalam kesendirian. Sebab di situ aku bisa mengadakan komunikasi denganmu melalui ingatan-ingatan dan doa. Dan, sudah, begitu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar