Tuhan yang lebih patut dicintai pun tahu kalau aku banting-tulang mencintaimu, Tuhan tak marah cintaku mengacu padamu, sebab Tuhanlah yang menciptakan Cinta ini. Tuhan tak geram cintaku padamu mengambil-alih cintaku padaNya, sebab Tuhan ingin aku mempersiapkan cintaku padaNya dengan cara aku mencintaimu, atau Tuhan tengah mengajariku dengan cara mencintaimu lebih dulu agar nanti pada saatnya cintaku padaNya telah benar-benar pantas.
Tentu saja, saya mencintai Tuhan dengan cara mencintaimu. Tuhan---sekali lagi, tidak marah, bahkan akan senang melihat aku mencintai makhluk yang mencintai Tuhannya.
Toh, jika Tuhan maha indah dan mencintai keindahan, apakah salah jika kemudian aku mencintaimu?
Dalam sebuah sabda terdapat ungkapan begini: Man arofa nafsahu, Arofa Robbahu--- dengan kata lain, Barangsiapa mengenal diri sendiri, ia akan mengenal Tuhannya.
Bagaimana jika kemudian aku mengenal diriku sendiri setelah aku mengenalmu? Apakah berlebihan kalau akhirnya aku Menemukan diriku ada pada dirimu?
Tuhan memberi peluang bagi hambanya untuk mengenal wujudNya melalui berbagai macam cara, salah satunya melalui pengenalan Diri sendiri. Tahukah kau, setelah mengenal dan bertemu denganmu, aku tak menemukan diriku sendiri kecuali Aku Fana dalam dirimu.
Itu artinya, Untuk bisa mengenal Tuhan, aku mesti lebih dulu mengenalmu. Agar aku bisa mengenal Tuhan, aku harus lebih dulu menjadi Dirimu, Kekasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar