Jumat, 05 Juni 2015

Semacam Coretan

Aku berdiam pada suarasuara kata, hening. Namun aku masih berbicara denganmu, dalam kudus bahasa hati. Aku berjalan pada gemetar langkahnya. Kurasakan langit di bawah telapak kakiku dan dunia mengambang di atas kepala; Berhenti berputar, dalam diam bersamaku. Aku mendengar gemuruh derap langkah di belakangku, langkah-langkah orang yang datang dari masa lalu. Diam; seolaholah mereka mati. Lantas masa lalu memundur beberapa saat. "Maka biarkanlah kuselesaikan jalanku hari ini."

Diriku, bukankah hidup dimulai pada hari terakhir? Ada banyak hari, bukan? Tapi hidup hanyalah seberapa. Dan ketika hanya tersisa satu hari untuk pergi, aku bergegas masuk ke dalamnya dengan keseluruhan harap untuk tinggal di sana. Bukankah dengan cara ini kehidupan dimulai saat itu berakhir? Karena itulah hidup tidak pernah akan hidup! Aku masih menggenggam sehari tersisa, Otakku terus bergumul dengan waktu mencari sebuah jawaban; "Apa yang harus kulakukan? Memulai hidup? Dengan apa akan kumulai hidup ini? Dengan siapa? Bagaimana? Dengan apa? Tindakankah? Atau hanya sekedar ucapan?"

Dan jika kebetulan aku bertemu seseorang, tentang apa yang akan kukatakan padanya? "Denganmu sekarang, kan kumulai hidupku?" Jika kukata ini, dan ia menjawab, "Bagaimana aku hidup? Kuucapkan selamat tinggal? Bagaimana aku menjalani kehidupan kematian?"

Dalam ruang ini hanya ada serpihanserpihan manusia ribuan tahun lalu, pada debudebu mereka yang berserakan kukatakan selamat tinggal. Karena aku akan menjadi serpihan seperti mereka.  Ku ucapkan selamat tinggal kepada lingkar planetplanet yang mencapaiku pada vakum ruang galaksi jauh. Galaksi yang berputar, debudebu bintang yang menyebar, udara yang terlahir berjuta tahun lalu: Pada hening diam.

Kuucapkan selamat tinggal untuk gunung berapi dalam terengahengahannya. Dengan gerimis yang menangisi kematian hati, kuucapkan selamat tinggal kepada riak gelombang yang memukul jasadku. Atau haruskah kubenturkan diriku dengan sendiri untuk menjadi diam? Pada semua berbeda yang aku. Mangsakah pada akhirnya? Karena tiada ku mampu, waktu yang lama, untuk meringankan riuh dunia dari setidaknya satu suara? Tidakkah alam semesta harus beristirahat? Suara semua harus menjadi diam. "Oh, diamlah... untuk beberapa hening yang tenang!"

Aku tidak bisa menggambarkan hari, tidak bisa kujelaskan apaapa. Berbicara tidak lain hanyalah pengkhianatan. Mereka tidak berbicara pada hari terakhir. Mereka hanya diam dan pergi. Bukitbukit itu diam juga. Dan aku, dengan mengaduk matahari dan angin, satusatunya suara. Tapi aku, dengan gerakgerak monoton dalam hening kematian, telah dijerat misteri dari hidup.

Bagaimana yang sederhana sepertiku melemparkan percikan rasa dan warna antara rahang rapuh untuk menciptakan tempattempat yang akan melindungi kita? Bagaimana kami dapat terus sampai hari ini? Aku fana. Nyanyian tasbih dedaunan hati dan reranting kering jiwa menyelamatkan hidupku. Bukan hidup yang kulindungi, tapi kematian.

Kelahiranku dicampur dengan rerumputan. Dan di bawah mereka, tipis telinga dari gandum tanahku menemukan mati. Akui tidak pernah memakai pakaian, pernakpernik atau gelang. Tapi nafasnafasku menjelma kain dan ornamen. Aku telanjang. Kutemukan riam kehangatan pada nyala kayu bakar kelahiran dariku yang terengahengah, kering. Aku hidup dalam kulit, bukan di luar. Tinggal hidup di tempat persembunyian rahasia, di keremangan, di dalam rahim, sebelum lahir.

Perayaan kelahiranku dalam pembuluh darah yang mengalir pelan, bukan dalam riuh dan gemerlapnya kota. Aku menetap di satu tempat dalam dunia imajinasi . Karena aku kafilah di kepalaku, namun tidak di antara jalanjalan kehidupan. Aku dan diriku, kami bertemu hidup sekali, sebelum pintu kematian. Pada masa kecil kami; kami muda dan tua usia.

Aku menoleh dan melihat kembali pada masa sekarang: untuk orangorang hilang tenggelam terkubur tulang sumsum mereka, pada orang yang berdiri di trotoar jalan kehidupan, pada mereka yang mengulurkan juluran tangan mereka yang mencari jalan keluar, sampai orang-orang yang baru saja masuk, dan hampir ku tak tahu apa yang mereka lakukan. Aku menoleh ke belakang dan melihat: ketika aku terdampar dalam lorong sumsum tulang waktu, mungkin telah kubuka jalanku sendiri: Kosong adalah cara. Kekosongan adalah batu.

Harihari yang pergi sekarang, tidak lebih dari sebuah hari untuk memasuki kehidupan.Tapi aku berakhir di sana, dan aku tak pernah masuk. Apa kita hidup dari kehidupan adalah praktek itu. Aku pun hidup sebelum kelahiran. Dalam arteri yang masih terbentuk, dalam rona wajah berbentuk, di dalam ringan isi perut kegelapan. Aku hidup di tepi, antara menjadi dan ketiadaan: Di pintu. Dan bila kucoba keluar, mungkin hancur, seperti tubuh surgawi, di jurang tak berdasar.

Jadi aku tidak berbicara tentang kehidupan. Aku tidak menggambarkan kelahiran, karena tidak ada. Aku tidak menulis tentang cahaya, tapi kegelapan. Tidak mengingat apa, tetapi apa yang seharusnya: Anggapan bahwa ini akhirnya mungkin apa yang kita sebut kehidupan kita. Dan mengucapkan selamat tinggal pada itu, mungkin, satusatunya kepastian yang lebih beberapa detik di depanku.

Aku akan merayakan desir yang menggelorakan pembuluh darahku. Akan kusambut orang-orang yang tibatiba muncul dari kekosongan, dan
menari dengan mereka dalam hening diamku. Ya, di hening diamku..




***
Diketik saat penulis merasai hening dipintu Ramadhan

Kamis, 07 Mei 2015

Semacam Coretan

Sesuatu Semacam Penggombalan

Kekasihku,
Apakah kau pernah mendengar cerita tentang langit? Betapa ia merindui bumi dengan rindu membiru. Lalu ia sembahkan drama siang dengan kemilau mentari, dan malam dengan percik cahaya bulan dan bintang. Ia lukis gemulai awan dan tarian beburung, sepoi angin dan basah gerimis, pada pagi dan senja hari. Rindu menjuntai bersama derai hujan, lenguh Guntur dan gelegar halilintar: Berdentum di bilikbilik paling sunyi. Rindu terus saja membiru.
 

Kekasihku,
Pernahkah kau dengar hikayat sang bumi? Betapa ia merindu langit dengan segenap kesungguhannya. Lalu ia sembahkan drama kehidupan dengan laut dan hutanhutan, sungai dan ngaraingarai. Ia lukis keindahan bunga, hembuskan semerbak cinta, pada pagi dan senja hari. Rindu menderu bersama gemuruh bayu. Di selatan, nelayan melarung sepi bersama bidukbiduk sunyi. Rindu selaksa pasir, debu menggulung mimpimimpi.
 

Kekasihku,
Pernahkah kau dengar kisah lautan? Betapa ia merindu daratan dengan keseluruhan ikan dan koralkoral. Lalu ia sembahkan tarian ombak, menghantar buih kerinduan pada pasir pantai atau karang di lereng curam. Rindu tak pernah lekang. Laut terus saja bergemuruh.
 

Kekasihku,
Pernahkah kau dengar riwayat daratan? Betapa ia rindui lautan dengan segenap gunung dan batu cadasnya. Lalu ia sembahkan sungai. Aiiih..., betapa khusyuk ia mencari muara. Di utara, gunung mengaum.

Kekasihku,
Inilah kisah rindu paling tua, kisah cinta paling hingar. Langit dan bumi, darat dan laut, berkelindan di kesunyian malam. Cinta tak pernah tidur, ia terbangun di sepanjang buritan kapal.

Dan, 

Kekasihku, akulah bumi dan langitmu, darat dan lautmu. Maka jangan beranjak dariku



----
Pada saat penulis mencoba untuk merayu.

Rabu, 06 Mei 2015

Ayah dan Putri kecilnya

Kepada Najwa di awal Mei






; Matahari di Hatiku


Anakku, segala musim di sini tidak sekalipun dapat mengubah musim kerinduan ayah akan gelak anak perempuanya. Ayah sudah sangat berusaha sejauh ini Sayang. Berusaha untuk tidak menjadikan alasan akan kesedihan karena dibuatnya rindu dari olahan ingatan. Najwa... Sayang... Ayah sangat ingin, kamu peluki. Meski tanganmu hanya sebatas setengah lengan atas. Setengah mata Najwa, ada di setengah mata ayah.

Belakang, langit sering menangis. Atau hujan membuatnya seperti demikian. Penuh air yang dijatuhkan dari yang tinggi itu Sayang. Tapi kenanglah, kalau tanpa hujan kita akan mati kehausan dan mati menjadi arang. Ayah sangat menyukai hujan, Sayang. Bukan cuma kesedihan, tapi hujan ingatkan kita kalau kelak kita akan ke langit yang misterius dari lahan sempit daratan ini. Cahaya-cahaya menari saat hujan tiba, sekalipun awan tampak menakutkan. Karena ia mampu membawa malam seolah setengah dan muram. Namun, langit selalu indah, ia tidak pernah menyembunyikan sesuatu. Bahkan dari matamu, Najwa.

Sewaktu kecil, ayah senang bermain seolah menjadi dewa langit. Tiduran di halaman, sekalipun kotor ayah tak pedulikan. Ayah pandangi kapas-kapas awan. Mereka temani ayah, tangan ayah bergerak. Seolah membuat animasi dan mengkremasi mimpi-mimpi yang tidak dapat dengan mudah ayah dapatkan kini. Ayah membentuk apa yang ayah inginkan. Apapun. Berharap agar Allah tiba-tiba melihat gerakan ayah membentuk awan-awan-Nya. Saat hujan, dari balik jendela Ayah mendengar dengan khidmat bunyi hujan. Bunyi air yang tidak sendiri. Ayah yang sangat penyendiri sangat menyukai benda mati dan gerak alam, sekalipun bagi ayah semua memiliki caranya untuk hidup.

Sayang... Kehadiran kamu, membuat ayah tak merasa sedingin saat hujan seolah marah dan membenturkan dingin ke sendi-sendi. Ayah masih muda, namun tulang belakang ayah rentan sakit. Hehe lucu ya. Harapan ayah cukup, jangan dulu sakit saat kamu membutuhkan ada dipangkuan ayah. Najwa membuat ayah hidup. Hati yang dulunya kalap dengan dinginnya kehidupan, kini kamu petih bunga api ke dalam kubah es ayah. Pelan-pelan mencair, seperti keinginan dan harapan-harapan.

Jangan malu untuk mengatakan kasih dan sayang pada siapapun di dunia ini, Nak. Sebab, keindahan hidup terletak pada perasaan-perasaan hidup yang saling mengasihani, berbagi, dan menerima apa yang terjadi setelah suka, setelah duka. Ayah selalu kangeeeen sekali. Ayah jahat ya. Ayah bilang kangen, Najwa belum ngerti ya. Harusnya untuk membuatmu mengerti adalah kehadiran ayah yang tidak pernah melewatkan lelapmu, bangunmu, laparmu, mandimu, bahkan saat engkau sedang asik bermain dengan duniamu. Ayah... selalu sangat merindukan kamu, Nak..





----

Pada saat penulis memandangi foto putri kecilnya.

Kamis, 26 Juni 2014

Pelajaran Hikmah Part.9



Hikmah dari sebuah senyum tulus (Kisah Nyata) “Tersenyumlah dengan ‘HATImu’ ”
Ini sebuah kisah nyata yang di dapet dari seorang teman lewat email, namanya Teguh, dan Teguh juga mungkin mendapatkan ini dari temannya.
tulisan ini berawal dengan tulisan “Tersenyumlah dengan ‘HATImu’ “
Mungkin itu di maksud sebagai judulnya.

Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumniJerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim disana. Sangat layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup. Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling.” Seluruh siswa diminta untuk pergi keluar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang  periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir, tugas ini sangatlah mudah.
Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke restoran McDonald’s yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani  si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong. Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri di belakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian. Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir? Saat berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali. Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang “tersenyum” ke arah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap ke arah  saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima ‘kehadirannya’ ditempat itu.
Ia menyapa “Good day!” sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung  beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan.  Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya  ‘tugas’ yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan  tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya.
Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah “penolong”nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai di depan counter.
Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan.Lelaki bermata biru segera memesan “Kopi saja, satu cangkir Nona.” Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan di restoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.
Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka…
Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua ‘tindakan’ saya. Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (di luar pesanan saya) dalam nampan terpisah.
Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap “makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua.”
Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah berkaca2 dan dia hanya mampu berkata “Terima kasih banyak,nyonya.”.  Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya sayaberkata “Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian,Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ke telinga saya untuk  menyampaikan makanan ini kepada kalian.”
Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.  Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata “Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan ‘keteduhan’ bagi diriku dan anak2ku!”
Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan menyadari, bahwa hanya karena ‘bisikanNYA’ lah kami telah mampu memanfaatkan ‘kesempatan’ untuk dapat berbuat  sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan. Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin ‘berjabat tangan’ dengan kami. Salah satu di antaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap “Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami.”
Saya hanya bisa berucap “terimakasih” sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat ke arah kedua lelaki itu, dan seolah ada ‘magnit’ yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh ke arah kami sambil tersenyum, lalu melambai2kan tangannya ke arah kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 ‘tindakan’ yang tidak pernah terpikir oleh saya.
Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa ‘kasih sayang’ Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali! Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan ‘cerita’ ini di tangan saya. Saya menyerahkan ‘paper’ saya kepada dosen saya.  Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, “Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?” dengan senang hati saya mengiyakan.
Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untu membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang di dekat saya di antaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.
Di akhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis di akhir paper saya. “Tersenyumlah dengan ‘HATImu’, dan kau akan mengetahui betapa ‘dahsyat’ dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu.” Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah ‘menggunakan’ diri saya untuk  menyentuh orang-orang yang ada di McDonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun,
yaitu: “PENERIMAAN TANPA SYARAT.”
Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!
Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda,
teruskan cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini
ada ‘malaikat’ yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang
membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu
(sekecil apapun) bagi sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya!
Orang bijak mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari
kehidupanmu, tetapi hanya ‘sahabat yang bijak’ yang akan meninggalkan
JEJAK di dalam hatimu.
Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk
berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu! Orang yang kehilangan
uang, akan kehilangan banyak, orang yang kehilangan teman, akan
kehilangan lebih banyak! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan
kehilangan semuanya! Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap
hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu
ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa
mendapatkannya.
Orang-orang muda yang ‘cantik’ adalah hasil kerja alam, tetapi orang- orang tua yang ‘cantik’ adalah hasil karya seni. Belajarlah dari PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri…
Smile & Peace
.

Rabu, 11 Juni 2014

Pelajaran Hikmah Part.8


Kisah Cinta Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Az-Zahra





Ada rahasia terdalam di hati Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ‘Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!
Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ‘Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ‘Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar; ‘Utsman, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ‘Ali.
Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ‘Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ‘Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakar sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
‘Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. “Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ‘Ali.
“Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.
‘Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ‘Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ‘Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ‘Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ‘Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, “Aku datang bersama Abu Bakar dan ‘Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ‘Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ‘Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ‘Umar melakukannya. ‘Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.
‘Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. “Wahai Quraisy”, katanya. “Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ‘Umar di balik bukit ini!” ‘Umar adalah lelaki pemberani. ‘Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ‘Umar jauh lebih layak. Dan ‘Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti
Ia mengambil kesempatan
Itulah keberanian
Atau mempersilakan
Yang ini pengorbanan

Maka ‘Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ‘Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ‘Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ‘Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
“Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. “Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”
“Aku?”, tanyanya tak yakin.
“Ya. Engkau wahai saudaraku!”
“Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
“Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
‘Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
“Engkau pemuda sejati wahai ‘Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, “Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
“Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
“Entahlah..”
“Apa maksudmu?”
“Menurut kalian apakah ‘Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
“Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
“Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”
Dan ‘Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.
Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ‘Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
‘Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ‘Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.
Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu” ini merupakan sisi ROMANTIS dari hubungan mereka berdua.
Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”
Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4)
————
Sumber: eramuslim. com

Jumat, 02 Mei 2014

Hatiku seperti bulan


lama kupandangi matahari itu dari jendela kamarku, sebelum akhirnya sadar bahwa bukan matahari yang kupandangi tapi bulan. jadi bulan yang kupandangi dari tadi bukan matahari. rupanya bukan siang tapi malam hari. jadi segala yang ada tadi benar benar terjadi dalam mimpiku. kuingat ingat lagi kegiatanku sebelumnya. tadi aku di simpang jalan; menuliskan itu atau mencobakan ini. mencobakan ini atau melanjutkan tulisan itu. saat mencoba coba itulah aku tertidur. ilerku rasanya seperti biasa: terbenam di bantal. sering aku menciumi kembali bantal bantalku di pagi hari, hanya untuk menemui ilerku kembali. ilerku di mana kamu kataku lalu aku membalik balik bantalku. kami di sini ah bukan, kamu bukan di sini tapi di situ.

aku membalik bantalku dan mereka memang di situ, sembunyi di pojok bantalku. tapi selalu aku berhasil menemukan ilerku di bantal yang seharian telah menopang kepalaku. kadang bantalku dalam tidurku kuubah posisinya: bukan di kepala lagi tapi kujepit dengan kedua kakiku. kamu di sini dulu ya, di kaki, sebab kepalaku rasanya sakit dan biarkan ia sendirian dulu. jangan diganggu. orang sakit butuh istirahat dan biarkan dia istirahat. ikhlaskanlah, kataku dan kubelai belai kakiku agar mereka mau menerima pandanganku itu. biarkan mereka sejenak saja kataku sambil terus mengusap ngusap kakiku. kukira nyamuk yang membuat aku terbangun sebelum aku tidur lagi. entahlah, sekali itu kubiarkan saja nyamuk menggigit badanku. biarlah kataku, dia juga butuh makan dan biarkan ia makan sambil mengisap darah dari tubuhku. toh aku tidak akan mati hanya karena nyamuk mengisap makanannya dari badanku ini.

lalu aku berpikir tentang bulan itu. jadi yang kupandangi dari tadi adalah bulan bukan matahari. kalau begitu hari memang malam bukan siang hari. artinya segala kegiatanku tadi berjalan dalam mimpi bukan dalam kenyataan. aku tersenyum kepada bulan dan entah mengapa aku tiba tiba ingin berkata kata kepadanya. aku tahu kataku bulan, kamu begitu jauh dan aku tak mungkin bisa menjangkaumu. tapi tak mengapa walau kamu tidak akan mendengar kata kataku ini. aku ingin berkata kata kepadamu bulan dan dengarlah kata kataku, jadi akhirnya aku ini bermimpi bukan sedang terjaga. jadi segala kegiatanku seharian tadi tidak ada yang nyata.

tapi bulan wahai bulan kau dengarkah bulan, mengapa buku buku yang kubayangkan itu ada semua di sampingku ini. aku membayangkan sisinya bukan membayangkan fisiknya. fisiknya memang ada dan isinya yang kubayangkan memang nyata. aduh bulan kataku, apakah aku ini mimpi atau aku ini tidak mimpi. nyata sekali kupingku tadi dipegang seseorang dan kudengar suara cuuus itu dan kulihat benda putih mungil kini di telinga kiriku. tapi aku tidak bergerak ke mana mana. sudah lama aku tidak bergerak ke mana mana. di sini saja berkawan dengan kamu, bulan, walau aku rasanya bergerak ke sana dan ke mari, nyatanya aku di sini saja dan kita pun terus bercakap cakap.

sekali lagi mataku memandang ke langit. di sanalah malam dengan bintang dan bulan. mataku hanya memandang ke bulan. kadang kurasakan bulan itu setelah lama kupandangi ia turun, mendekat ke jendela kamarku dan saat itu aku melihat bulan di depan mataku. aku terpesona, benda langit itu benar benar seperti bulan yang kita pandangi dari bumi. warnanya kuning dan bentuknya bulan dan yang paling penting, ia telah ada di depan jendela kamarku. aku senang sekali melihat bulan di sini. kamu turun kataku bulan dari langitmu. iya aku turun dari langitku hanya untuk melihat kamu, kata bulan itu dan aku malu malu tapi kukatakan kepada bulan. bulan kalau kamu mau masuk masuk ya. aku senang kamu duduk di tepian ranjangku ini. atau duduk di meja kerjaku. atau sekaligus mengetik di mesin ketikku. pokoknya anggap rumahmu sendiri bulan.

dulu aku berkawan dengan kucing tapi kucingku sudah mati bulan. kini tak ada lagi kawanku dan kalau kamu mau, aku mau kamu jadi kawanku tapi apakah kamu betah tinggal di sini bulan. apakah kamu tidak akan kembali lagi ke langitmu. hampa dan kosong sekali rasanya, saat aku berpikir sampai ke sini tiba tiba di depanku bulan itu menghilang. cepat sekali ia bergerak. saat aku pandangi langit, tahu tahu bulan itu sudah terpasang di sana lagi. bulan kataku, jauh sekali kamu di sana sedang aku di sini. apakah ilusiku saja saat kurasakan kamu tadi hadir di kamarku ini bulan.

bulan itu bersinar di langit. dari jauh ia melihat ke diriku dan dari jauh pula kurasakan dirinya membelai belai dadaku, lalu masuk ke dalam diriku dan akhirnya diam sebagai hatiku. sekali ini aku menolak, aku takut itu mimpi lagi alias tak nyata. kutolak bukan dalam hatiku. keluarlah bulan kataku, biarkan hatiku seperti hatiku selama ini saja. kukira tempatmu di langit bukan di dalam dadaku ini.

Minggu, 20 April 2014

Gelas



betapa rapuh pengetahuan kita, bahwa di meja saya kini ada gelas, dan dia ada: ada gelas di meja saya. tapi lalu datang burung menyambar gelas saya. dibawanya terbang. saya melihat burung dengan paruhnya adalah gelas saya. lalu burung itu menghilang, gelas saya kini tiada.


tapi gelas saya itu ada, hanya adanya di tempat lain. saya tidak bisa lagi mengatakan gelas saya itu ada. sebab adanya sudah bukan di sini lagi tapi di entah. tapi pasti, gelas saya itu ada. andai ia lebur, sekali lagi gelas saya itu menghilang: ia jadi debu, dan keberadaan gelas saya itu kini sebagai debu. ia ada, tapi adanya sebagai debu.

begitulah saat tubuh saya kelak menghilang. tubuh saya kini ada, tapi saat ia menghilang, tubuh saya tiada. ia juga lebur seperti gelas saya itu, yang kubayangkan lebur - kenyataannya, kita tidak tahu. sebab ia tidak di depan mata kita lagi.

orang lain yang berkata saya sudah tidak ada lagi, saya sendiri ada, dalam bentuk serpihan-serpihan. tubuh fisik saya kembali jadi tanah, hanyut terbawa air sungai sampai ke lautan. naik jadi awan dan turun jadi hujan. (idih kamu meminum tubuhku saat menampung air hujan dari ember yang airnya kamu ambil dari sumurmu).

aku kini di lambungmu. tapi kamu bilang aku telah tiada: mati menghilang. pada kenyataannya aku ada hidup di lambung entah siapa. lalu bagaimana kita bisa berkata aku lagi? nyatanya ada aku di akumu. ada kamu di akuku karena prosesnya tinggal kita tarik ke belakang. lanangkah tempat adanya aku kelak itu? atau perempuan. kita lalu kehilangan identitas fisik tubuh, karena anasir anasirnya datang secara interteks-tanah bukan interteks-kata.