MAKNA DAN RASA DALAM PUISI
Siapa
pun tentu setuju, bahwa puisi adalah ungkapan perasaan penyairnya. Ya,
dari puisinya, orang dapat “membaca” perasaan seperti apa yang ingin
diungkap. Senang, sedih, kecewa, marah, atau sekedar melankolia karena
terbawa oleh suasana yang ada di sekitarnya. Seorang penyair akan
menulis puisi dengan suasana hati yang sedang dirasakannya ketika
menulis. Jadi, penyair adalah orang yang paling jujur di dunia. Dia
mengungkapkan pikiran dan perasaan apa adanya, tanpa ditutup-tutupi
dengan kebohongan.
Karena puisi itu ungkapan pikiran dan
perasaan penyairnya, puisi menjadi sangat kaya akan nuansa suasana.
Suatu peristiwa yang sama bisa saja ditangkap berbeda oleh penyair yang
berbeda. Masalah cinta, misalnya, ada penyair yang merasakannya sebagai
suatu peristiwa biasa dan sederhana, sehingga ketika dia mengungkapkan
perasaan cintanya, yang muncul sekedar puisi datar tanpa letupan emosi.
Namun, bagi penyair yang lain, cinta adalah sesuatu yang luar biasa,
sesuatu yang rumit, sulit diterjemahkan dalam kata-kata, sehingga ketika
dia mengungkapkan perasaan cintanya, yang muncul sebuah puisi yang
obscure, samar, namun eksplosif, penuh energi.
Cara
mengungkapkan pikiran dan perasaan yang berbeda-beda itu pula yang
membedakan kualitas atau kelas para penyair. Penyair yang tergolong
masih pemula, yang masih dalam taraf belajar menulis puisi, cara
mengungkapkan pikiran dan perasaan masih lugu, langsung, straight to the
point. Pikiran sebagai kandungan makna dibungkus dengan emosi
berlebihan sebagai kandungan rasa. Ya, penyair pemula masih mengumbar
secara berlebihan emosi dalam puisi-puisinya. Kalau marah, dia
berteriak. Kalau sedih, dia menangis. Berbeda dengan penyair yang sudah
mapan, makna dan rasa dalam puisinya sudah mampu mengendap, tersublimasi
dalam diksi, pilihan kata-kata yang bernas.
Karena puisi
itu merupakan ekspresi pikiran dan perasaan penyairnya, maka untuk
memahami puisi, pengenalan terhadap penyairnya juga menjadi sesuatu yang
cukup penting. Artinya, untuk memahami sebuah puisi, dengan mengetahui
latar belakang kehidupan penyairnya, tentu pemahaman terhadap puisinya
menjadi semakin dalam. Paling tidak dapat ditarik benang merah yang
menghubungkan antara puisi dengan penyair yang menulisnya. Mengapa puisi
seperti itu dapat tercipta dari seorang penyair seperti itu? Dengan
mengetahui latar belakang kehidupan penyairnya, pertanyaan semacam ini
relatif lebih mungkin dicari jawabnya.
Sementara itu,
menurut Prof Nurdien dari Fak. Ilmu Budaya UNDIP, puisi sebagai karya
dari penyair, memiliki independensi sendiri. Begitu dia terlepas dari
tangan penyairnya, dia bebas untuk dimaknai oleh siapa saja yang
menikmatinya. Ruh atau jiwa puisi bergerak dan hidup di dalam
intepretasi pembacanya. Itulah sebabnya, puisi yang sama bisa saja
dimaknai berbeda oleh pembaca yang berbeda.
Saya kira,
pendapat dua-duanya bisa diterima. Puisi sebagai karya boleh saja
dikaitkan dengan penciptanya, sang penyair. Tetapi, kalau toh harus
dipisahkan dengan penyairnya, dia bisa juga mengembara ke mana dia
suka.
Kukira,Ws.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar