Senin, 27 Januari 2014

Kuterima Hujan yang Ada



Ada yang melipathujan di alisnya. Menyusuri kanal sepi kesekian, dengan mata lilin dibalikkegelapan. Ada yang baru kehilangan diri dan kecintaannya pada dingin, pada ingin ke dalam sangkar semesti kita juangkan pendirian.

Di sini hujan memang telah reda, namun menumpuk dan menepuk dahi ingatan dari sengatan waktu yang berkejaran, bersapaan dari telapak ke tegak langit yang mewartakan musim. Musim dingin dianginkan kekesepian.

"Pada bagian mana dari deras hujan yangbelum melukaimu, Rif" terdengar suara wanita diujung pulau, sambilmemekakan kerling mata pada arus ombak dan segala yang ada di depannya. Lambatlaun, hujan menyatukan kenyataan pada basahnya tanah yang diantar.

Ada luka, ada yang disembuhkan. Ada yangmenyembuhkan, ada luka baru. Luka-luka temannya hati yang dikuatkan, palingsahabat dari sebuah ihwal ketegaran dan kekeraban ideologi hidup di sini:bahagia ditemukan, dibuat dari program pembangunan luka.

Ada wanita yang amat mencintai hujan, sepertimencintai hidupnya meski dilakoni sebatang lini hati. Ada laki-laki yang mencintaikesunyian yang telah menumbuhkannya dalam perayaan bahasa basah dan kering,bahasa renyah dan keras, bahasa yang asin dan manis, bahasa hangat dan dingin,bahasa hujan dan angin. Seperti mencintai banyak hidup dalam satu peraga, satulini hati.

Seperti keadaan hawa malam, udara begitu menusukberkamungplase di dada-dada yang belum juga dapat kembali pada mimpinya dibawahselimut, di bawah keadaan harapan, di bawah perayaan keasingan.

Aku suka hujan, sepertimu..
Ia selalu merancang air dari langit agar kembaliturun ke bumi, turun ke tanah. seperti kita yang mungkin bermula dari langit.Hanya bagan keasingan begitu kuat medannya, begitu mengajak kita menemukankata-kata paling tepat dan akurat untuk mendefiniskan apa hikmah dibalik hujanyang kita cintai dalam lini hati. Aku menyukai bau hujan, bau kehausan, bauyang mengajak kita berlarian ke arah yang jauh lebih jauh dari hujan.

Aku suka hujan, sepertimu
Hujan tahu cara memeluk tubuhku
Agar tak palsu bersandiwara
Hadapi keberanian atau ketakutan.

Sepertimu
Diam-diam menghanyutkan lisal segala
ke tiba-tiba.
Dari kesetiaan
Aku terima hujan yang ada
Membenarkan letak permainan kepala
Di bawah-bawah kepalan hujan menuju dada,
menuju harapan yang terus berkobar membakar sebatanglini hati,

Maka pada bagian mana dari deras hujan yang belum melukaimu, Rif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar