Jumat, 17 Januari 2014

Semacam Catatan Melankolik


Udara makin panas untuk masuk ke dalam tubuh yang lama mengutub dibagian terkedapnya.Matahari seolah paling meninju-ninju atmosfer yang sudah berlubang-lubang oleh tangisan manusia di dalamnya. Kadang, aku iri melihat orang-orang yang sehat dan tak mudah sakit-sakitan. Tapi Tuhan mengajari kita untuk menerima diri. Mensyukuri tiap hal yang kita dapati, kenakan, dan yang menjadi bagian jalan alur usia.

Siang mencapai pelabuhan senja ini buatku agak melankolik. Pelajaranya ialah respirasi yang baik. Dadaku membengkak terbiasa lari-larian di atas udara. Maka, jalan respirasiku agak sedikit membuat lalu lintas menjadi padat, maksudku sesak. Sudah lama aku ingin menulis lagi. Pura-pura menjadi kecebong yang ingin lekas melompat dari kolam dangkal. Melawan arus badai Hayna.

Setiap hari ialah induk kaset tua yang dapat merekam lalu terbuang dengan biasa. Kadang,orang bisa buat macam hal menjadi ayunan yang kemudian bisa buat tawa di wajahnya atau muram yang sangat asam dan kusam di bibirnya.

Jika musim air datang. Aku biasa menyalakan hujan sekalipun itu di dalam dadaku. Kadang air dapat membuat lunak kawat yang berduri dan kadang ia bisa membuat aliran listrik di tubuhku jadi bahan penghangat yang paling cair, seperti yang berasal dari dua bongkah bulatan mata. Ia buatku makin percaya akan keajaiban Tuhan dan begitulah sejauh ini aku mempertahankan hidupku, percaya keajaiban yang Tuhan tawarkan.

Makin lama hidup, makin sering aku saksikan kematian manusia-manusia pribumi dan ditinggal orang-orang yang dikasih. Kadang, tiap aku menyelesaikan tugas untuk menanamkan kesedihan aku tarik tangan Tuhan dan ia selalu mampu buat geletar dalam kalbuku. Tuhan, ini aku dalam doa. Nafasku seperti ini, kadang mendesak ingin kau suapi udara ke dalam organ, wadahku untuk bergerak. Aku sedang berada di puncak merapi yang punya banyak lembah kelelahan sekaligus kesibukan, tapi kadang menyenangkan meski harus sampai menyeret kepalaku sendiri hanya untuk melindungi lilin kecil agar tetap menyala, dan cahaya itu dapat menjadi bahagia bagi mereka yang buat aku berani punya cita dan tujuan.

Maafkan aku Tuhan...
Sering aku menyusahkan dan berkeluh selain pada-Mu. Ini aku, mahkluk kecil yang pernah Kau ciptakan dengan penuh cinta. Manusia dan cinta memang dilahirkan secara bersamaan. Ini cintaku lagi, lagi untuk-Mu..

-----------------------------
diketik 
pada saat jam di tangan menunjukan waktu pulang lebih cepat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar