Selasa, 18 Maret 2014

Sebentuk Coretan Dari Istriku

Di suasana pagi yang entah keberapa kalinya saya kembali dibuat terharu,bahkan saat berusaha menuliskanya saya seolah kehabisan kata untuk memulai,yang saya tau dan yang saya rasakan pagi ini air mata saya mulai berjatuhan dengan sendirinya saat tanpa sengaja setelah usai merapikan beberapa buku yang berceceran yang tidak pada tempatnya,saya menemukan sebuah buku diary istriku yang ia simpan rapi disudut tumpukan rak buku miliknya , lalu saya mulai membaca satu persatu berbagai macam tulisan diarynya tanpa ia ketahui,maafkan saya ya istriku tidak meminta ijin dulu padamu,jujur saja saya begitu terharu mendapti tulisan yang ia pernah buat untuku yang begitu tulus mengungkapkan semua perasaanya kepadaku,
Ya, memang harus aku akui selain ia memiliki hobi memasak ,saya pun juga baru mengetahui kalo ia juga sangat suka berada didunia kata-kata sama seprtiku,salah satu kesamaan yang kita berdua miliki dari sekian kesamaan yang tidak mungkin saya tuliskan satu persatu dikesempatan ini,bedanya saya lebih dulu mengetahui kesenanganya dengan dunia kata-kata lalu menemukan berbagai macam bentuk karya tulisanya dan berkesempatan membacanya tanpa ia saadari,hehehehe maafkan saya ya sayang ,mungkin engkau akan berfikir saya sedikit curang :)

---

Untuk Imam-ku

Bissmilahirrahmanirrahim..

"Aku tahu rizkiku tidak dimakan orang lain, karenanya hatiku tenang. Aku tahu amalan-amalanku tidak mungkin dilakukan orang lain, maka aku sibukkan diriku dengan beramal. Aku tahu Allah selalu melihatku,karenanya aku malu bila Allah mendapatiku melakukan maksiat. Aku tahu kematian menantiku, maka aku persiapkan bekal tuk berjumpa dengan Rabb-ku." (Hasan Al-Basri)

khaifahalluk, Akhi? Jagalah diri Akhi untuk Ana.

Perlahan waktu menuturkan kisah-kisah tertentu. Tak selalu tentang kesibukan, dan cara menjawab pertanyaan. Tapi Ana bahagia, Akhi. Bahkan sebelum Ana percaya akan kehadiran cinta yang suci, dari-Nya, Akhi. Secara perlahan, Ana menemukan potongan-potongan makna kehidupan ini.




 Ana selalu melihat kutipan yang tersimpan dalam buku harian. Kutipan terbaik yang dapat membuat Ana bangkit saat sakit, membuat Ana lebih kuat ketika sehat, membuat Ana tak segan menjadi pemimpi yang rajin menuliskan mimpi-mimpinya di luas langit, bahkan di atas air sekalipun. Cinta yang tak pernah terhapus ketika nafas masih membumbung di udara. Indah sekali perkataan Ustadz Salim A. Fillah ini,
"Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangunnya dari sini, dalam dekapan ukhuwah. Jadilah ia persaudaraan kita; sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, sekokoh janji.. Dalam dekapan ukhuwah, Aku mencintai kalian karena Allah.."

Akhi, mengertikan? bahwa manusia selalu inginkan yang terbaik bagi kehidupannya. Dan menjadi selalu lebih baik, dalam setiap pertambahan waktunya. Begitupun dengan Ana, Akhi. Ana berharap kelak, suatu masa nanti. Ada, Akhi. Setia membimbing Ana untuk melangkah lebih baik, menuju pintu Syurga. Sebelum kematian, kita akan menciptakan banyak keindahan di bumi dengan cinta yang kita ambil dari langit itu.

Ana berharap, Akhi dapat bersabar. Dari sepanjang jalan-jalan dakwah yang Akhi mulai dari keluarga kecil kita nantinya, dan pencarian ilmu-ilmu baik kehidupan maupun akhirat. Dakhwah pun itu cinta, dan usaha dengan cinta dan keikhlasan, agar senantiasa berada di jalan dengan cahaya-Nya. Akhi, Tetaplah membudayakan bahasa nurani. Tetaplah Akhi merekam perjalanan-perjalanan Akhi. Hingga sampai pada akhirnya, Ana akan menagih catatan rekaman itu sebagai maharnya.  Jagalah pikiran Akhi, pandangan, hati, jiwa, dan perbuatan, Akhi.

Tidak akan ada yang sia-sia dari cita-cita, dan kehidupan di bawah naungan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusannya sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan jahat dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya terhadap kehormatan dirinya. Tiba-tiba Ana ingat kata-kata itu, 'terhadap kehormatan diri'.  Kebenaran tidak diukur dengan banyaknya orang yang mau melakukannya, namun kebenaran adalah apa saja yang mencocoki Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman Ilahia.

Bimbinglah langkah, Ana kelak ya Akhi...
Ana ingin selamat dalam kehidupan yang segalanya fana ini.

Ana tau kita berdua masihlah sangat muda,namun ana ingin berterima kasih, Akhi telah banyak mempersiapkan diri untuk masa depan.

Ana masih ingat Akhi untuk sebuah permintaan Akhi dimalam itu tepat sehari sebelum Akhi datang untuk melamar Ana : "Sebelumnya Akhi meminta maaf untuk semua kekurangan yang Akhi miliki lalu cukuplah Allah yang akan menyempurkan semua-Nya sesuai kehendak-Nya,Sebelum kita menikah Akhi hanya meminta satu hal dari Ukhty agar membuat perjalanan kita berdua kelak selalu dalam naungan-Nya,Ukhty maaf kan Akhi sebelumnya,Akhi hanya ingin Ukhty tidak mencintai Akhi dan tidak memberikan semua hati Ukhty untuk Akhi,bahkan kelak bila Akhi telah halal untuk Ukhty menjadi suami Ukhty,jangan jadikan Akhi penghalang untuk betul-betul sepenuhnya bisa mencintai Allah Ukh ,karena Allah sendiri sudah berpesan bila kita menaruh hati kepada dunia (makhluk) kelak kita akan dibuat kecewa karenanya,bukankah kita tidak ingin seperti itu terjadi dan membuat Allah cemburu kepada perasaan kita yang berlebih kepada ciptaan-Nya ukh,hati kita hanya satu maka dari itu Allah membuatnya hanya untuk diri-Nya sendiri ukh,begitupun sebaliknya ukh akhi tidak akan menuntut ukhty untuk mau menyerahkan sepenuh hati dan cinta ukhty untuk akhi,jangan ukh,jangan...,
cukuplah Allah dengan sifat Maha Penyayang-Nya yang selalu menaungi hati kita berdua untuk saling berkasih sayang karena-Nya ukh , biarlah Allah yang berkehendak untuk kita berdua, seperti Ia yang berkehendak untuk mempertemukan kita berdua ukh,Akhi tidak akan menuntut yang lain ukh,cukuplah engkau taat kepadaku (suamimu) kelak, maka itu semua sudah sangat cukup untuku".

Akhi,dimalam itu Ana hanya dapat menitihkan airmata dan tidak bisa berkata apa-apa untuk menjawab permintaan Akhi, selain memperbanyak syukur didalam hati kepada Allah karena telah berkenan mempertemukan Ana dengan orang seperti Akhi,Ana yang terus menyeka airmata Ana yang berjatuhan lalu diam dalam seribu bahasa malam itu mungkin membuat Akhi bingung dan merasa telah menyakiti perasaan Ana dengan permintaan Akhi seperti itu kepada Ana,tidak Akhi sekali lagi tidak demikian,Ana malah bahagia mendengarnya makanya Ana menangis Akhi,Ana cuman tidak bisa banyak berkata malam itu karena menahan getaran yang begitu hebat didalam hati Ana mendengar semua kata-kata Akhi yang begitu menenangkan dan membuat diri Ana merasa lebih yaqin dari sebelumnya bahwa Akhi memanglah laki-laki yang kelak dapat menjadi imam yang baik buat Ana dan keluarga kecil kita nantinya, Ana merasa bahagia malam itu dan membiarkan semua airmata Ana berjatuhan karena rasa syukur Ana kepada Allah Akhi,bukan karena Ana tidak bisa menyanggupi permintaan Akhi

Ana, bangga kepada Akhi yang tak pernah banyak menjanjikan sesuatu
namun Akhi membuat penegasan, karena cinta Allah, karena waktu
Kelak kita akan bertemu, tanpa lagi ada yang harus disembunyikan


Maaf Akhi ,bila boleh Ana mengatakanya "Karena Allah, Ana berani mencintaimu Akhi. Bahkan sebelum ketika Ana membisikan langsung. Allah telah menitipkan pesan itu."


---
yang mencintaimu
your wife,
: Nur Reski Waritza

Tidak ada komentar:

Posting Komentar