Minggu, 09 Maret 2014

Semacam coretan lain disaat hujan


Masih Tentang Hujan 

"Hujan berkunjung...," Ujarmu di antara rerintiknya yang satu persatu mengetuk genting, menyanyikan nada-nada berirama taktaktaktik. "Kadang hujan berkunjung tak hanya mengetuk genting. Ia pun mengetuk pintu hatimu, membasahi sisa-sisa ketukan kenang yang lalu karena aroma mistis hujan, sisa kenangan itu tumbuh membesar, menjadi hijaunya pohon cerita yang rindang. Dan kau, entah bagaimana pula merasa nyaman berteduh di bawahnya: melagut..." Ujarmu sembari tak henti menatap hujan yang mungkin telah mengetuk pintu hatimu terlebih dahulu. "Dan kita selalu merinduinya; berlari di bawah pelukan dingin hujan, yang entah mengapa jua bisa menghangatkan kita, atau membekukan kita dalam kesunyian yang panjang; sama panjangnya perjalanan hidup, sepanjang kalimat hidup yang tak jua menemukan titik. Barangkali, jika kau membeku, pahit manisnya secangkir kopi hangat bisa mencairkanmu, untuk lalu mengalir dalam kepasrahan yang dalam.." Dan kita masih sama terdiam, membiarkan hujan menceritakan apa yang hendak disampaikannya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar