Kamis, 22 Juni 2017

Semacam Coretan

PELAJARAN | 

Kadang-kadang ada masa aneh bagi sebagian orang dalam mempelajari agama dari segi keruhaniannya, yakni saat seseorang lancar berbicara sesuatu yang belum pernah terpikirkannya secara penuh. Si pembicara bahkan  belakangan agak bingung dan bertanya-tanya: mengapa aku tadi bisa berbicara seperti itu?

Dalam perbincangan dari hati ke hati antar dua orang, misalnya, terkadang tercipta semacam 'chemistry' yang aneh. Tanpa ada rencana, mendadak salah satu pihak bisa berbicara panjang lebar tentang suatu topik yang sangat mengena di hati pendengarnya. Tentu umumnya kita akan  berpikir bahwa si pembicara ini lebih paham ketimbang pendengar dalam masalah yang dibicarakan itu. Tetapi tidak jarang kasusnya tidak begitu. Yang terjadi sebaliknya: si pendengar justru sudah lebih dahulu  memahami topik tersebut, namun ia belum menyadarinya. Maka Tuhan menjernihkan pemahaman si pendengar ke dalam kesadaran dan akal-pikirannya melalui lidah si pembicara. Ini berarti pula bahwa si pendengar itu juga mengajari si pembicara secara tidak langsung. Nah sekarang, pertanyaannya: siapa mengajari siapa? Pembicara mengajari pendengar, atau pendengar yang mengajari pembicara?

Boleh dikatakan bahwa kedua-duanya saling mengajari, yang berarti Tuhanlah yang pada hakikatnya mengajari keduanya dengan cara tak terduga. Lalu mungkin engkau berpikir:  si pembicara  beruntung dijadikan perantara dan si pendengar beruntung karena mendapatkan pemahaman tanpa susah-payah mencari-cari sendiri.

Persoalannya lalu: apakah si pembicara boleh merasa senang karena "dipilih" Tuhan untuk menyampaikan sesuatu kepada pendengar dan si pendengar senang karena mendapat keistimewaan diberi petuah atau pelajaran?

Jika si pembicara merasa senang karena alasan itu, maka ia sangat mungkin terjebak ke dalam ujub. Tetapi jika pembicara tidak merasa senang karenanya, berarti ia tidak mensyukuri karunia Tuhan. Ini dilematis.

Tetapi jika pembicara mengembalikan persoalan ini kepada Tuhan dan tidak memikir-mikirkannya lagi, ia bisa bebas dari dilema. "Rasa senangnya" akan berubah menjadi rasa syukur, bukan karena merasa dipilih, tetapi bersyukur karena mendapatkan pelajaran tak terduga melalui kehadiran pendengar, dan bersyukur karena mendapat karunia semacam ini, kemudian mengembalikan segala pujian kepadaNya. Maka ia bebas dari "merasa memiliki,"  bebas dari "merasa istimewa," dan bebas dari "merasa-merasa" lain yang berpotensi membesarkan egonya.

Sedang bagi pendengar, ia akan bebas dari "merasa punya ilmu baru" atau bebas dari “merasa makin pandai dan lebih baik daripada orang lain” jika ia juga mengembalikan urusannya kepada Tuhan. Pendengar akan merasa senang bukan karena merasa makin pandai, namun karena  dibukakan kesadaran oleh Tuhan bahwa dirinya masih banyak tidak tahu, sehingga ia menjadi bersyukur. Rasa syukur itu diwujudkannya dengan berterima kasih kepada Tuhan, kepada si pembicara dan lalu berusaha terus belajar mencari ilmu bukan karena ingin dianggap pintar, namun karena mensyukuri karunia ilahi berupa akal-pikiran dan pengetahuan.

Jadi keduanya tidak punya alasan untuk sombong. Keduanya menjadi punya banyak alasan untuk bersyukur dan takut. Bersyukur karena mendapat pemahaman dari Allah secara tak terduga dan berharap bisa meluruskan niat dan lakunya, sekaligus  takut tidak bisa mengamalkan pemahamannya sebagaimana yang dikehendaki Tuhan. Lingkaran ini merefleksikan aksioma penting:  "la haula wala quwwata illah billah."  Lalu dari sini muncullah Khauf dan Raja', dua sayap yang, menurut sebagian ahli sufi, akan membawa seseorang terbang lebih dekat ke hadirat Ilahi.

Tuhan sering bekerja dengan cara yang tak terduga  untuk mengajari kebaikan agar kita tidak mengklaim bahwa kita lebih istimewa dan penting daripada orang lain hanya karena kita “merasa” sudah lebih paham, lebih cerdas, lebih baik, lebih alim dan lebih benar.

Wa Allahu a'lam

Senin, 12 Juni 2017

Semacam Coretan

Suatu saat nabi di teras masjid bersama sahabatnya dalam rangka menunggu waktu iktikaf. Kemudian ada pemuda gagah lewat depan masjid menuju perkebunan. Kemudian sahabat nabi ada yang komentar: ‘’alangkah sial orang itu, seumpama tubuhnya yang gagah itu dibuat untuk iktikaf dia akan beruntung. Masa’ gagahnya seperti itu kok kedonyan, mengurusi kebon terus.”

Nabi langsung menoleh dan berkomentar: Jangan ngomong seperti itu. Dia kerja untuk menafkahi keluarganya juga perintah Tuhan. Atau dia kerja karena untuk membelikan makan ibunya juga perintah Tuhan.

Akhirnya sahabat sadar bahwa tidak mereka saja yang sedang melakukan ibadah.

Artinya sesuatu yang sakral bergantung pada yang profan. Solat fardhu itu keharusan, dan untuk bisa solat seseorang harus makan, dan untuk bisa makan seseorang harus bekerja. Artinya bekerja itu juga suatu kewajiban.

Beberapa waktu kemudian, setelah para sahabat rampung iktikaf, jalan-jalan dan bertemu Abu Ayyub al-Ansori yang waktu itu sedang habis dari kebon.

Dan diberilah sahabat-sahabat itu hasil panen kurma. Kok ya ndilalah sahabat yang habis iktikaf itu doyan.

Ada sahabat perempuan yang tiap habis solat terburu-buru pulang karena ingin menyusui anaknya. Sehingga tidak sempat untuk wiridan. Kemudian ada sahabat lainnya yang mengomentari: sungguh celaka orang itu karena tidak pernah wiridan.

Mendengar itu nabi paham dan langsung menukas; Jangan seperti itu. Dia memang tidak wiridan, tapi jangan anggap dia tidak sedang melaksanakan perintah Tuhan. Menyusui anak itu juga bagian dari perintah Tuhan.

Darusan (membaca al-Qur'an secara bergilir) di masjid itu baik. Dan tradisi di desa saya, biasanya orang yang darusan dikirimi jajan dan kopi. Segala jenis gorengan lengkap. Dan yang memberi jajan tersebut pernah ditegur seorang Ustadz; kamu kok gak pernah ikut darusan? Dasar bocah nakal. Kasihan orang tuamu.

Kemudian, teman saya itu kok ndilalah cerdas jawabannya:
‘lha kalau aku ikut darusan yang masak jajan dan membuatkan kopi kamu siapa?”

Ustadznya langsung mak klekep.

Maksudnya kita itu jangan saling vonis. Sesuatu yang sangat akhirat sering kali bergantung pada sesuatu yang sangat duniawi. Orang solat itu butuh pakaian. Dan mereka yang membuat pakaian boleh jadi justru tidak solat. Dan boleh jadi mereka yang membangun masjid; yang menyumbang material dan lainnya itu orang yang justru jarang solat. Dan seterusnya.. Ruwet pokoknya kalau dirinci satu-satu.

Padahal belum lagi bicara soal haji.. siapa yang buat pesawat? Belum lagi bicara soal obat-obatan, belum tentu yang membuat dan meracik obat dari golongan muslim.. Pokoknya jangan GR dulu lah.

Meniru gaya Cak Lontong: Mikiiir. sambil menudingkan telunjuknya di jidat.

Minggu, 11 Juni 2017

Semacam Coretan

TAWASSUL

Wahai jiwa-jiwa suci yang terbang dalam angkasa malakut

Wahai energi-energi abadi yang berenang dalam atmosfir jabarut

Wahai ayat-ayat yang menghiasi dinding-dinding alam lahut

Wahai bukti-bukti yang memadati kisi-kisi lelangit

Wahai peri-peri penabur shalawat dan tasbih yang menggetarkan dedaunan

Wahai desau angin yang sebarkan rintihan munajat di penghujung asa

Wahai rinai-rinai yang lembabkan pipi pendamba sekerat ijabah

wahai anai-anai yang membakar diri dalam ada-Nya

Jangan tanya apa masalahku

Jangan pula meminta pendapatku

Aku kehabisan kata dan tanda baca

Pandu aku yang sempoyongan mengetuk pintu RahmatNya

Biarkan aku bergulung-gulung meraung mengemis ampunanNya

Beri aku sepercik air dari telagaNya

agar aku lenyap

agar aku tak berbatas

agar aku tak ber-aku

Kamis, 01 Juni 2017

Semacam Coretan

Buaanyak sekali kiriman via SMS, via WA, maupun via BBM, yang berisi aduan-aduan dari para Sahabat saya yang berbeda Pandangan satu dengan yang lainnya.

Tujuannya mungkin ingin mengetahui sikap saya, atau berharap saya mendukung sikap mereka ... hahahaha ... jangan harap, karena TIDAK AKAN.

Kepada mereka saya balas dengan 'pertanyaan', yang isinya kurang lebih sama.

Pada yang sebelah 'sana' saya bertanya ;

"sampeyan lagi ngomongin Penista Kitab Suci, apa ngomongin Ahok ?"

Dan pada yang 'seberangnya' saya bertanya ;

"sampeyan lagi ngomongin Toleransi, apa ngomongin Habib Rizieq ?"

sementara saya tetap bebas melayang di awang-awang.

Bagi saya kalau kita tak bisa berbuat banyak demi kebaikan negara dan kebaikan masyarakat, cukuplah kita berjuang agar apa-apa yang keluar dari pikiran, hati lisan dan jemari kita tak menambah perpecahan, kerusakan pikiran, akhlak/moral dan hati. Agar negeri ini tak koyak oleh fitnah dan dusta dan amarah yang siap mengorbankan apa saja demi egoisme golongan dan syahwat kekuasaan, agar kita tak mewariskan kebencian dan dendam yang membuat kita kehilangan anugerah berharga dari Tuhan: rasa kasih sayang  kepada sesama manusia. 

Karena kebanyakan kita lebih sering merasa lebih tahu cara masuk surga ketimbang Tuhan, atau bahkan merasa lebih memahami Tuhan ketimbang Tuhan sendiri. Semisal engkau beriman, tetapi kau memasukkan makanan dan minuman yang diharamkan Tuhan ke dalam perutmu setiap hari; atau mencuri uang rakyat setiap hari, dan kau merasa tetap tak bersalah; atau setidaknya engkau merasa lebih kasih sayang pada sesama dan menganggap Tuhan pasti begini dan begitu karena rahmat dan kasihNya. Atau jika engkau marah-marah dan menghamburkan cacian, menyakiti sesama,  engkau merasa Tuhan pasti meridhoimu. Atau engkau membela kebenaran dengan fitnah dan merasa Tuhan memaklumimu.

Ringkasnya, diam-diam kita merasa Tuhan pasti mengikuti apa mau kita sehingga kita merasa berhak melakukan apapun atas namaNya. Diam-diam kita memberhalakan diri dengan mencatut Tuhan. Kita lalu seolah berdoa dan minta pertolongan namun hati kita diam-diam menuntut Tuhan untuk mengikuti dan menuruti apa mau kita, seolah-olah hanya kitalah yang pantas berdoa dan pantas dikabulkan keinginan dan ambisi kita.

Lalu,  jika keinginan dan ambisi kita ternyata tak terpenuhi, kita marah-marah, mengancam orang lain, mengkafirkan dan menyesat-nyesatkan orang lain, karena kita tak bisa memaksa Tuhan untuk menuruti keinginan kita. Kita jadikan sesama sebagai pelampiasan kemarahan karena kita tak bisa marah-marah dan menyuruh Tuhan patuh pada diri kita.  Maka kita bertindak seolah sebagai panitia seleksi masuk surga dengan menggunakan kriteria menurut tafsiran kita sendiri sebagai tolok ukurnya.

Barangkali, ya barangkali, kita lupa untuk memantaskan diri sebagai hamba sebelum menghakimi orang lain. Kita mungkin lupa bahwa setiap hari kita lebih sering mendengarkan hawa nafsu kita sendiri, memuji golongan kita sendiri. Kita berdoa tidak dengan kerendahan hati namun dengan keinginan memaksa, dengan perasaan pongah, dan ingin dituruti tanpa peduli bahwa ada banyak orang lain yang bisa berdoa dengan harapan berbeda dari kita dan mungkin lebih tulus dan tawadhu daripada doa dan hati kita.

Karena itu ulama yang mendalam ilmunya dulu mengajarkan cara menata hati, adab berdoa, adab memuji dan bertawadhu, dihadapan Allah. Salah satunya dengan istighosah. Jika kita menyimak istighosah menurut para Wali Allah itu, akan terasa atsarnya. Mereka sedang dididik dan mendidik diri untuk memperbaiki akhlak kepada Tuhan dan kepada sesama. Dengan harapan kelak Allah berkenan mengakui kehambaan, bukan memaksa Allah menuruti keinginan. Harapan dan keinginan adalah sekunder, karena Allaah lebih tahu apa yang paling baik bagi hambaNya. Yang primer adalah bagaimana permohonan kita menjadi wasilah untuk menjadi hambaNya sesuai kehendakNya. Kita mengaku lemah sebagai manusia dan karena itu kita akan senantiasa berusaha, meminjam adagium Gus Mus,  memanusiakan manusia, agar kuat bersama-sama tanpa saling merasa lebih unggul daripada yang lain. Semoga.

Selamat Hari Lahir Pancasila
Saya INDONESIA.

Senin, 15 Mei 2017

Semacam Coretan


Tuhan yang lebih patut dicintai pun tahu kalau aku banting-tulang mencintaimu, Tuhan tak marah cintaku mengacu padamu, sebab Tuhanlah yang menciptakan Cinta ini. Tuhan tak geram cintaku padamu mengambil-alih cintaku padaNya, sebab Tuhan ingin aku mempersiapkan cintaku padaNya dengan cara aku mencintaimu, atau Tuhan tengah mengajariku dengan cara mencintaimu lebih dulu agar nanti pada saatnya cintaku padaNya telah benar-benar pantas.

Tentu saja, saya mencintai Tuhan dengan cara mencintaimu. Tuhan---sekali lagi, tidak marah, bahkan akan senang melihat aku mencintai makhluk yang mencintai Tuhannya.

Toh, jika Tuhan maha indah dan mencintai keindahan, apakah salah jika kemudian aku mencintaimu?

Dalam sebuah sabda terdapat ungkapan begini: Man arofa nafsahu, Arofa Robbahu--- dengan kata lain, Barangsiapa mengenal diri sendiri, ia akan mengenal Tuhannya.

Bagaimana jika kemudian aku mengenal diriku sendiri setelah aku mengenalmu? Apakah berlebihan kalau akhirnya aku Menemukan diriku ada pada dirimu? 

Tuhan memberi peluang bagi hambanya untuk mengenal wujudNya melalui berbagai macam cara, salah satunya melalui pengenalan Diri sendiri. Tahukah kau, setelah mengenal dan bertemu denganmu, aku tak menemukan diriku sendiri kecuali Aku Fana dalam dirimu. 

Itu artinya, Untuk bisa mengenal Tuhan, aku mesti lebih dulu mengenalmu. Agar aku bisa mengenal Tuhan, aku harus lebih dulu menjadi Dirimu, Kekasih.

Minggu, 14 Mei 2017

Semacam Coretan

Kadang-kadang aku memilih Kesendirian itu justru untuk menolak sepi. Kesendirian itu bukan semata-mata barang misalnya mengurung diri di kamar atau menyepi di tempat yang jauh dari keramaian. Namun kesendirian aktiv sebagai pintu masuk Menyambut Liyan. Dan sebaliknya, Liyan bukan berarti selalu dalam bentuk seseorang. Liyan bisa berarti, misal; kenangan.

Tapi kesendirian juga yang menyebabkan aku sering menaruh curiga dan sekaligus menakar kehendak Tuhan. Seperti ini misalnya; Jangan-jangan Tuhan menciptakan Kopi itu agar aku dapat merasakan kepahitan seorang pecinta yang tak diakui. Kesendirian juga yang memicu pikiranku untuk menduga-duga kehendak Tuhan; jangan-jangan Tuhan menciptakan Perpisahan agar seorang pecinta bisa menerjemahkan kegetiran ke dalam puisi.

Itu yang melatari mengapa aku sekali tempo begitu kuat ingin "Manjing Kahanan" ke dalam kesendirian. Sebab di situ aku bisa mengadakan komunikasi denganmu melalui ingatan-ingatan dan doa. Dan, sudah, begitu saja.

Rabu, 03 Mei 2017

Semacam Coretan

Dengan menyebut nama cinta, yang dengannya Manusia dapat merasakan Tuhan hadir dalam setiap desir. Aku berlindung dari kebencian dan dendam yang menjerumuskan.

Alif laam miim. Cinta itu, tidak ada keraguan di dalamnya. Petunjuk bagi mereka yang setia melaksanakan perintah kekasihnya. Yaitu mereka yang mempercayai kenangan, menegakkan rindu, dan menyerahkan hatinya.

Airmata adalah konsekuensi rindu, sementara menangis adalah pengakuan atas cinta.

Hari ini adalah Hari Besar Kenangan. Hari untuk pulang; ke hatimu. Aku harus mengadakan perayaan untuk menghormati jasa-jasa Kenangan. Setidaknya karena Kenangan, telah memberi banyak uluran tangan untuk menyelamatkan karunia yang tak diakui. Karena dengan demikian, aku bisa menyampaikan rasa syukurku kepada Tuhan. Ya, aku akan melangsungkan ritual untuk memperingati Hari Besar ini dengan cara mengisahkan cerita kita, semata agar semua makhluk tahu bahwa cintaku padamu. Lebih luas ketimbang kesepian.

Kau dilahirkan ke muka bumi ini tentu ada banyak tujuan, salah satunya agar aku dapat menyaksikan keindahan, karena dengan itu dapat kutemukan jalan untuk mengenal Tuhan. Maka mencintaimu, adalah pintu masuk untuk sampai ke dalam Tuhan.

Maka demi mempertanggung-jawabkan kenanganku kepadamu di hadapan semesta, di Hari Besar Kenangan ini, aku telah mengangkat sumpah untuk senantiasa memperjuangkan kenanganku padanya, dengan cara menuliskannya ke dalam cerita:

Sebelum senja yang suci itu, seluruh pusaran waktuku terasa begitu suwung, detik demi detik kulalui seperti mayat yang terapung. Mengalir saja, bahwa nasibku tergantung keputusan arah arus sungai kehidupan. Diriku seperti dilepas ke tengah-tengah takdir. Perjalanan itu benar-benar gaib. Bahkan, saudara tahu. Aku hidup dalam keadaan mati roso. Mati roso itu barang misalnya sudah tak lagi sanggup merasakan kebahagiaan atau penderitaan. Seperti paceklik yang abadi itu.

Hingga akhirnya datang hari itu--- Muara tempat arus sungai perjalananku menemukan maknanya. Di senja yang keramat itu aku sampai pada satu titik dimana Tuhan menampakkan wujudnya. Aku merasa itu adalah isyarat bahwa akan ada kejadian di kedalaman diriku. Ya, Tuhan menampakkan senyumNya melalui bibirmu. Tuhan memberi anugerah kepadaku dalam bentuk bahwa aku dapat melihat semua keindahan di muka bumi ini cukup dengan melihat wajahmu.

 

: ke haribaanmu

Kulipat kertas yang berisi semua tentangmu dan kuserahkan kepada laut. Nampaknya ia sudah mafhum untuk siapa kertas itu dan kemana ia harus mengantarkan. Sebab, saudara tahu. Hanya laut itulah satu-satunya makhluk yang dapat memahami airmataku.

Aku mencintainya semata karena tunduk pada nurani, sebab apapun yang diputuskan oleh nurani adalah mandat dari takdir. Bagaimana aku dapat menghindar dari sesuatu yang telah digariskan oleh Tuhan, sementara tak ada sehela saja dari nafasku yang keluar dari perhitunganNya? Saudara boleh membilang ganjil karena aku baru melihat wajahnya selintas, itu pun sudah terlampau purba. Kalau akhirnya cintaku kepadanya diadili dan digugat oleh seluruh penghuni semesta, biar Tuhan sendiri yang turun tangan, karena aku yakin bahwa Dalang akan bertanggung jawab atas lakon wayang yang ia gelar di pertunjukan.

Terbilang musykil karena sesungguhnya Ia sama sekali tak pernah tau lelakon perasaanku. Saudara tahu, setiap kali kangenku padanya memuncak, betapa cukup bagiku memandang rumahnya dari jarak kejauhan. Aku bahkan sering membayangkan betapa bahagia atap rumahnya yang bisa menaunginya dari hujan dan kepanasan, betapa senang dinding rumahnya yang dapat melindunginya dari kedinginan. Betapa, Oh, Betapa… Lantai rumahnya pasti merasa beruntung karena bisa dibuat alas untuk kakinya. Barangkali, matahari yang terbit setiap pagi itu dalam rangka takzim atas keluhuran dirinya, dipancarkannya cahaya matanya ke pusat kehormatan malam dan menjadikan bulan menemukan maknanya. Betapa rinduku mengembara dari bintang ke bintang.

Dimasa yang sudah berlalu tanpa kesudahan itu selama dua dasawarsa aku tak habis-habisnya memujanya sebagai penegasan jati diri seorang pecinta;
“ kekasih… Inilah aku, lelaki yang selama dua puluh tahun mempunyai cita-cita hanya untuk memandang wajahmu. Kini, di senja yang nirmala ini, cita-cita itu telah tercapai. Aku tak berharap ingin memilikimu, sebab aku mencintaimu bukan untuk ingin menguasaimu. Cintaku padamu,kinasih, semata-mata adalah bagian dari darma, dan mencintaimu, kinasih. hanya untuk melaksanakan takdirku. Kau tahu, selama ini aku menghamba dengan cara memperjuangkan cinta. Hanya untuk mencintaimu. Setiap kali aku lalai akan Tuhanku, yang kuingat cuma wajahmu, hanya wajahmu belaka yang membayang jauh ke dalam batinku”. Kusampaikan kata-kata itu sembari memandang sang rembulan. Bukan, itu bukan kata-kataku, itu adalah hyang wisesa yang berbicara melalui mulutku.

Aku tak berharap ingin memilikimu, sebab aku mencintaimu bukan untuk ingin menguasaimu. Cintaku padamu,kinasih, semata-mata adalah bagian dari darma, dan mencintaimu, kinasih. hanya untuk melaksanakan takdirku.
bahwa takdir mengizinkanku hanya untuk mencintaimu, tidak untuk hidup bersamamu dan bahwa semesta menyetujui meski mati, jiwaku tetap diperkenankan untuk mencintaimu, hanya dirimu. Semata-mata cintaku menghadap ke haribaanmu.

--2014--