Pelajaran Hikmah Part.1
SHALAT SEJATI DARI IBNU ARABI
Alkisah.
Ada seorang anak muda yang jika dibacakan Al-Quran di
hadapannya, maka wajahnya berubah menjadi pucat. Ketika gurunya bertanya
kepada orang dekatnya tentang apa penyebabnya, ternyata anak muda ini
telah shalat malam dengan membaca seluruh surah Al-Quran. Mendengar hal
itu, sang guru bertanya langsung kepada pemuda tersebut:
“Anakku, menurut kabar, malam tadi engkau shalat dengan membaca seluruh ayat Al-Quran. Benarkah?” tanya sang guru.
“Benar, guru,” jawab anak muda.
“Anakku, bisakah engkau nanti malam menghadirkan aku di arah kiblatmu, dan jangan lupa kepadaku,” pinta guru.
“Baiklah guru,” jawabnya.
Keesokan harinya, sang guru bertanya, “Sudahkah kau lakukan apa yang aku minta?”
“Sudah guru.”
“Apakah kau mengkhatamkan Al-Quran tadi malam?”
“Tidak guru. Aku tak sanggup membaca lebih dari separo Al-Quran.”
“Bagus..bagus... Nanti malam, hadirkan di depanmu siapa saja di antara
para sahabat Rasulullah SAW yang engkau sukai. Tapi, waspadalah, karena
mereka telah mendengar Al-Quran langsung dari Rasul. Maka, kau jangan
salah dalam bacaannya.”
“Baiklah, Guru.”
Keesokan harinya, sang
guru bertanya kepada muridnya tentang apa yang terjadi pada malam hari.
Anak muda itu menjawab, “Guru, aku tak sanggup membacanya lebih dari
seperempat Al-Quran.”
“Baiklah, anakku, nanti malam hadirkan Rasulullah SAW di hadapannya. Dan, ingatlah di depan siapa engkau membaca Al-Quran.”
“Baiklah, guru.”
Lalu, keesokan harinya, sang guru kembali bertanya tentang peristiwa
yang terjadi pada anak muda itu ketika shalat. Lalu, pemuda itu
menjawab, “Guru, aku hanya sanggup membaca beberapa ayat Al-Quran saja
saat shalat tadi malam.”
“Ok. Nanti malam, bertobatlah kepada Allah
dan bersiap-siaplah. Ketahuilah bahwa orang yang mengerjakan shalat itu
sebenarnya sedang bermunajat kepada Tuhannya, dan engkau berdiri di
hadapan-Nya sambil membaca kalam-Nya untuk-Nya. Karena itu,
perhatikanlah bagian dirimu, bagian Al-Quran dan bagian-Nya. Kajilah apa
yang engkau baca. Tujuan membaca Al-Quran bukan sekadar membaca
huruf-huruf dan susunannya, serta penuturan ucapan dan ungkapannya
belaka. Tapi, tujuannya adalah mengkaji makna-makna ayat yang engkau
baca sehingga engkau tidak menjadi orang bodoh.”
Kemudian, keesokan
harinya, sang guru menunggu berita dari muridnya. Tapi, sayang sekali
anak muda itu tak kunjung datang. Lalu, dia mengutus muridnya yang lain
untuk menanyakan keadaanya. Akhirnya, diperoleh kabar bahwa pemuda itu
jatuh sakit.
Sang guru pun berangkat menjenguknya. Namun, saat anak
muda itu melihat gurunya, ia menangis sejadi-jadinya, dan berkata:
“Semoga Allah membalas kebaikanmu kepadaku. Aku tidak pernah menyadari
bahwa diriku berdusta kecuali pada malam tadi. Aku berdiri dalam shalat,
menghadirkan Al-Haqq, dan berada di hadapan-Nya. Ketika aku mulai
membaca surah Al-Fatihah dan sampai pada ayat Iyyaka na’budu (Hanya
kepada-Mu kami menyembah), kulihat diriku sendiri, tetapi aku tidak
melihat ia membenarkan apa yang dibacanya. Karena itu, aku merasa malu
untu mengucapkan ‘Iyyaka na’budu di hadapan-Nya, sedangkan Dia
mengetahui bahwa aku membohongi ucapanku sendiri. Aku melihat diriku
lalai dengan pikiran-pikirannya sendiri terhadap ibadah. Aku terus
menerus mengulang-ulang dari awal surah Al-Fatihah hingga maliki
yaumiddin, dan aku tak sanggup mengucapkan ‘iyyaka na’budu. Aku malu
berdusta kepada-Nya karena Dia akan membenciku. Maka, aku tidak rukuk
hingga terbit fajar. Aku pergi kepada-Nya dalam keadaan diriku yang
tidak diridhai-Nya.”
Kemudian, tiga hari setelah peristiwa ini,
pemuda tersebut meninggal dunia. Setelah dikuburkan, gurunya mendatangi
kuburannya. Ia mendengar suara anak muda itu dari kuburnya, “Guru, aku
hidup di sisi Yang Mahahidup. Dia tidak menghisabku sedikit pun.”
Sang guru pun pulang ke rumahnya. Ia berbaring di tempat tidurnya, Ia
jatuh sakit karena sangat terkesan dengan keadaan muridnya. Tak lama
kemudian, gurunya pun menyusul muridnya ke alam baka.
Semoga bermanfaat!!!
--Kisah ini dituturkan oleh gurunya Ibnu Arabi, Al-Muqri Abu Bakar
Muhammad bin Khalaf bin Shaf Al-Lakhmi, yang terdapat dalam kitab
Futuhat Makiyyah karya Ibnu Arabi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar