Kamis, 10 Oktober 2013
Rumah Untuk Ibu
Ibu, ingin sekali kusampaikan pada air matamu
bahwa anakmu tidak hilang di belantara
masih kuingat jalan anak sungai
yang sempat menuntunku ke pintu masjid
sekarang, ketika genap kepalaku
saatnya kucari dan kubangun rumah untukmu
minimal, aku bisa menautkan engkau
dengan yang mampu menggendongmu
ke tempat yang semestinya ibu
Duh Ibu, terkadang bayang-bayang serupa jahanam
mengekor di kepalaku yang baru saja lengkap
ia menari-nari, bahkan sesekali mangajakku berdansa
lantas menjelma belati yang teracungkan ke arahmu
belati itu membunuhku sebelum akhirnya menusuk perut
yang lama menjadi rumahku
Duh Ibu, malam-malam selalu saja diselimuti kegelisahan
sebelum ketakutan menjadi bayang-bayang pagi
terselip di sela-sela ruang tubuhku
gambar-gambar jelaga
dari api yang menjilat tubuhmu
Ibu, bagaimana jika anakmu ini justru yang membangun
rumah untukmu di atas api? seraya merobohkan
rumah yang kau bangun di antara bunga-bunga taman
Oh, Ibu
Jahanam itu
Jelaga itu
api itu
Oh...
Ibu
sebab itu Ibu, selalu
ketika tidak ada lagi mampu
kudoakan seperti yang pernah kau ajarkan
lewat senyuman, lewat air mata dan lainnya
bahkan ketika kota-kota telah memenjara
Ibu, anakmu tidak hilang di belantara
aku sedang membangun rumah untukmu
dengan doa-doa yang engkau panjatkan
2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar