Selasa, 25 April 2017

Semacam Coretan

Demokrasi.

Kau tak tersinggung ketika mendengar aku menyatakan suka kopi hitam pekat, dan aku tak sakit hati ketika melihatmu memesan teh. Kita sama-sama tak naik pitam saat kau bilang teh lebih wangi ketimbang kopi, dan aku bilang sebaliknya.

Kita tak pernah saling umpat hanya karena kita beda pendapat, kita tak pernah marah cuma sebab beda arah. Jiwa kita matang oleh pergesekan, dan perbedaan di antara kita sebenarnya hanyalah untuk menanak kesadaran kita, bahwa nyala lilin dan obor bersumber dari api yang sama, bahwa cahaya selalu butuh gelap agar keberadaannya dapat menerangi.

Aku menamaimu cinta, dan kau menyebutku kasih-sayang. Aku memanggilmu kembang, dan kau menyapaku bunga. Kau lebih suka menganggapku masa lalu, aku lebih senang mengibaratkan kau kenangan.

Adakalanya Demokrasi bisa sesederhana itu, Kekasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar