Ada saat dan tempat dimana seseorang mesti memisahkan antara Harapan dan Angan-angan. Bahwa Harapan adalah perjuangan, laku kolektif yang diekspresikan hampir membutuhkan setiap bagian dari tubuh, dan angan-angan adalah kosong, dan kosong adalah pernyataan tentang kekecewaan yang belum tiba waktunya---kemarahan terhadap birahi yang tak selesai.
Mencintaimu, itu artinya harus ada upaya untuk menyelamatkanmu dari apapun yang bisa menyakitimu, upaya itu hadir sebagai bagian dari pelaksanaan harapan. Jika tak ada upaya apapun, sementara saya mencintaimu, itu berarti saya telah memberi kesempatan kepada orang lain untuk menyelamatkan Yang saya cintai dan membiarkan Yang saya cintai diteror, direbut dan dimiliki orang lain.
Dengan kata lain, harapan adalah konsep, dan praktiknya adalah membuatmu tersenyum, sebuah pelaksanaan yang disusun dari Sintesis-Apriori---tentang cinta yang menghadirkan keberanian untuk berjihad melawan marabahaya.
Saya jadi ingat dawuh dari Ibnu Athoillah; Arrojau ma qoronahu amalun, wa illa fahuwa amniyatun--- Harapan adalah sesuatu yang disertai dengan pelaaksanaan, jika tidak maka itu hanyalah Angan-angan.
Akhirnya, saya akan mengutip penutup dari sajaknya Sapardi yang berjudul Dalam Doaku: ''Aku mencintaimu, itu sebabnya aku tak akan pernah selesai mendoakan keselamatanmu''.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar